Statistik termasuk kata yang lumayan dikenal, karena dapat menyelusup di banyak bidang dan dapat ditelaah dan nikmati dari berbagai sudut terapan. Ada yang suka menelaah dari sudut teknik, kesehatan, psikologi dan sosial, maupun alam dan lingkungan. Namun pernahkah kita memandangnya dari sudut seni? Kebanyakan orang mungkin tak berpikir ke situ. Namun sebenarnya jika kita mau meluangkan sejenak otak ini untuk menelisik ke sisi yang unik tadi, mungkin kita akan jatuh cinta tanpa pamrih pada kata statistik tersebut.
Sebelumnya, mari kita coba mengenal definisi dari statistik dan seni. Pada umumnya, statistik dikaitkan dengan upaya mengumpulkan, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan data. Jelas disini bahwa kata kunci utama dari statistik adalah hal-hal yang terkait dengan data dan informasi. Sedangkan seni didefinisikan sebagai hasil dari sebuah proses mencipta dan mengatur sebuah obyek atau symbol yang dapat mempengaruhi rasa, emosi, dan intelektual manusia. Dengan demikian kata kunci dari seni adalah hal-hal yang terkait dengan perasaan.
Bagaimana statistik dapat dihubungkan dengan seni? Sebenarnya dilihat dari level paradigma berpikir, ini ibarat dua gunung yang berseberangan dan terpisah oleh jurang yang amat lebar dan curam. Bagaimana tidak? Sudah jelas jika statistik itu cabang ilmu dari matematika yang dominan dipengaruhi otak kiri atau otak logika, sedangkan seni itu dipengaruhi oleh otak kanan yang lebih dikendalikan oleh rasa. Namun menghubungkan keduanya sesungguhnya adalah suatu kenikmatan tertentu, karena seni dapat membuat statistik itu menyenangkan, menarik perhatian, serta mudah dipahami. Dan itu sebenarnya tak terlalu sulit. Nggak percaya?
Coba kita perhatikan tiga kalimat berikut ini yang merupakan konsep penting dalam ilmu statistik: distribusi normal, dimensi faktor multivariat, dan peluang. Kemudian kita akan mencoba menggunakan pendekatan seni, agar tersaji senyum saat dirasa mudah memahaminya
‘Statistic is Fun’ - 1:
“.. itu lonceng? .. yang penting adalah bunyinya”
Kebanyakan orang melihat distribusi normal itu sebagai sebuah lonceng. Namun amat sering orang terpancang pada ukuran rata-rata dan varian sebagai parameter utama bentuk lonceng tersebut, kemudian berusaha mendapatkan ukurannya dalam bentuk angka matematis. Padahal dalam kenyataannya, orang awam justru mungkin akan lebih tertarik pada bentuk lonceng itu sendiri.
Pertama, bentuk tonjolan lonceng. Kenapa menarik? Ya jelas karena bagian itu menonjol. Bukankah semua yang menonjol itu menarik bagi kita? Prestasi menonjol, bagian tubuh menonjol, tembok menjorok, atlet tertinggi .. ya, semua yang ‘eye-catching’ pada umumnya adalah yang terkait dengan hal yang menonjol. Nah, dalam pengertian statistik, yang menonjol itu adalah peristiwa yang paling sering muncul, atau yang paling dominan dari semua data. Nah, dengan hanya melihat yang menonjol, maka kita jadi mengerti apa konsep rata-rata data dalam statistik.
Kedua, jika lonceng tadi kita bayangkan sebagai bentuk tiga dimensi, maka yang juga menarik adalah lebar penampang ‘corong’nya, karena orang akan terpancing melihat bandulnya. Dan jika kita bisa membandingkan antara lonceng yang mirip gelas terbalik, dengan lonceng dari topi koboi terbalik, maka jelas penampang tadi akan berbeda bentuknya. Pertanyaaannya adalah : seberapa besar pelebaran corong itu dari pangkal bandul sampai ke tepi corong? Bentuk gelas terbalik menunjukkan corong tanpa pelebaran penampang yang ekstrim. Dalam istilah statistik, artinya isi gelasnya terkumpul dalam batas 2-sigma, atau sebanyak 95% data. Sedangkan jika kita gunakan topi koboi sebagai perbandingan, kita akan dapatkan pelebaran yang amat ekstrim, dan jelas isi gelasnya akan melebar kemana-mana.
Nah apabila tonjolan dan penampang lonceng tadi digabung, maka kita akan memiliki beberapa kemungkinan imajinatif. Kita bisa memiliki lonceng yang mirip gelas terbalik, atau cangkir kecil terbalik, atau yang berleher panjang mirip botol kecap, atau yang mirip baskom dengan penampang amat lebar. Bisakah anda bayangkan jika lonceng itu kita gerakkan hingga berbunyi? Berbedakah suaranya? Dan apakah itu bisa kita hubungkan dengan konsep six-sigma atau quality process control?
Jadi, nggak sulit kan mengerti konsep sebaran data berdistribusi normal andai kita memiliki sebuah lonceng dan melihatnya dengan lebih kreatif? Nggak ada yang melarang kok .. :)
No comments:
Post a Comment